Monday, March 05, 2007

Satu Cerita dari Kota Tercinta...

Duh Gusti,
kawulo nyuwun pangapunten, ternyata ndhak salah kalo toh Panjenengan memberikan
azab bagi kami umatMu. Tapi, bukankah semua itu cobaan dengan harapan semoga
kami menjadi lebih arif menjadi manusia di muka bumi ini, ataukah saya, dia,
serta mereka yang memang kelewatan dan tak tau malu di hadapanMu Yang Memiliki
sertifikat atas seluruh dunia ini bahkan hidup dan mati kami?



Belum lagi sirna
dari ingatan hamba yang mudah lupa ini tentang dasyatnya gempa yang meluluhkan
Jogja, kini angin puting beliung menerpa…. Apakah ini peringatan ataukah memang
petunjuk yang tersembunyi dariMu.



Ah, kalau coba
direnungkan memang sepertinya sudah sewajarnya Kau kirim itu semua, karena
memang umatMu sebagian besar sudah khilaf dah lupa pada hakikat sebenarnya
tentang makna hidup ini.



Kotaku tercinta
yang dulu selalu terlihat lugu dan ayu, tak hanya porak poranda oleh bencana,
tapi juga telah luluh lantak oleh pergeseran budaya.



Paras asli Jogja
kini telah bersolek dengan gincu dan bedak kamuflase sosial.



Kata orang,
persepsi adalah kesan yang ditangkap oleh panca indera ditambah pengalaman yang
akan menghasilkan perilaku. Hmmnn pengalamanku mengatakan Jogja masih aseli seperti logo Dagadu, namun
panca inderaku kini menangkap hal yang sungguh fantastis berbeda, sungguh sangat…sangat berbeda. Lantunan lagu Jogjakarta milik Kla
Project kini menjadi getir terdengar. Jikalau kotaku mampu menitikkan air mata,
barangkali tak hanya tetesan yang
terlinang namun derai yang mengucur deras ke pangkuannya.



Duh Gusti... kini mau dikemanakan
paras jelita si gadis lugu itu. Peradaban yang telah tercoreng serta
tercabik-cabik oleh kenikmatan sesaat yang tak Kau ijinkan.



Aku tertegun sejenak karena hampir
tak percaya setelah kubuka email yang terkirim dari rekan lama.
Potongan
bukti bahwa kini ketabuan dan kesucian tak lagi dianggap berarti. Aku pikir ini
hanya terjadi di ibu kota,
di mana pusat terjadinya kemaksiatan, kehancuran moral, dan pergeseran budaya.
Tapi ini…. di Jogja??? leherku serasa tersekat tak dapat mengeluarkan
potongan-potongan kalimat.



Ataukah aku yang
terlalu bodoh ndhak bisa ngikutin perkembangan zaman, it has been changed man!
wake up! you’re too slow to catch it!
Apa aku yang memang sangat tolol dan
naif.



Hal-hal yang aku
anggap masih tabu ternyata sudah lazim dilakukan oleh yang lain. Aku pikir hal
itu masih “zinah” dilakukan, ataukah sudah bergeser menjadi “halal” untuk
dinikmati?



Membuktikan
sudah tak lagi menstruasi dengan telah melakukan “sholat” sehingga bisa leluasa
untuk melakukan hubungan badan pra Nikah?



Kalimat apa yang
pantas terucap dari bibirku yang kaku ini, “Alhamdulillah” kah karena toh
ternyata dia masih ingat kewajibannya untuk menyembahMu. Atau “Astagfirullah” kah karena melanggar batas
yang telah Kau tetapkan?



Apa yang sepantasnya hamba lakukan?
menolong mereka dari “kenikmatan”? ataukah termenung membayangkan balasan
dariMu yang pasti akan datang. Sekilas
aku teringat potongan lagu milik Java Jive



“Deru nafas memacu di dalam ruang
seiring hasrat manusia. Gelap melanda jiwa dan mereka terlena oh begitu cepat
dosa itu terbuat.”



Duh Gusti, hamba
yang terlalu lugu dengan perubahan zaman ataukah memang manusianya yang sudah
tak lagi perduli dengan azabMu? aku hanya dapat mengurut dada dan geleng
kepala. Modernisasi ataukah kebebasan yang kebablasan? Otorisasi atas hidup
manusia ataukah kebodohan atas nafsu birahi yang tak tertahankan?



Barangkali
kewarasanku sudah tak lagi dapat dipercaya, haruskah ikut tergilas dengan
keterkinian ataukah tetap bertahan pada akar rapuh tradisional kampungan yang
tersisa. Please Gusti Allah, kuatkanlah akar rapuh itu….






Thursday, November 03, 2005

When i was born.......


Ngga' banyak yang bisa aku tulis di sini tentang masa kecil. As a ussual kid from a broken home family.
Tinggal di sebuah rumah sederhana di kota kecil Magelang, Jawa Tengah. Tapi dengan keadaan apapun aku tetap merasa bersyukur kar'na ini merupakan anugrah Illahi.
Alhamdulillah, i had a lot of experiences, tentang Hidup dan Kehidupan. My Beloved Mbah Yayi, always taken care of me, as a grandson.

When i was in Senior High School, i moved on to Jakarta, a capital city, a big city, i always remember when the first time i step on my foot to this Metropolitan. Nggak kayak di kampungku dulu yah..... dan beda banget sama yang di tipi-tipi.......

I'll tell you latter about my childhood, when d' mood comes in...............